Senin, 10 September 2012

CANDI SEWU



Lokasi: Yogyakarta
Arti nama: “Seribu”
Luas candi induk: 1.640 m2
Luas tanah/kompleks: 30.525 m2
Tahun pembuatan: Abad 8 M
Peninggalan: Kerajaan Mataram Kuno




           Nama candi ini berasal dari bahasa Jawa yaitu “sewu” yang artinya adalah seribu. Namun hal ini bukan berarti jumlah candi ini ada seribu buah, melainkan penamaan ini berdasarkan kisah Roro Jonggrang pada Candi Prambanan.  

        Kompleks Candi Sewu adalah sekumpulan candi Buddha di kawasan sekitar Prambanan. Berdiri di atas lahan yang membujur dari utara ke selatan sepanjang 185 meter dan dari timur ke barat sejauh 165 meter.

 Tidak heran kompleks candi ini disebut-sebut sebagai yang terbesar kedua setelah Candi Borobudur.


           Candi Buddha yang aslinya memiliki 249 candi ini memiliki usia yang lebih tua daripada candi Prambanan, tepatnya dibangun pada abad ke-8 pada masa pemerintahan Raja Panangkaran dari Mataram Kuno.

 Di tiap pintu masuk dijumpai sepasang arca dwalapala yang bertugas sebagai penjaga pintu gerbang candi. Bangunan candi Sewu apabila dilihat dengan seksama maka terlihat membentuk pola mandala, suatu perwujudan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana.


          Kompleks candi Sewu terbagi dalam tiga halaman. Candi induk terletak pada halaman pertama dan memiliki ukuran 40 x 41 meter. Pada candi induk terdapat bilik utama dan bilik penampil. 

Masing-masing bilik penampil memiliki pintu masuk menuju bilik utama. Pada halaman kedua ditempati oleh delapan candi apit dan 240 buah candi perwara. 

Ada suatu keunikan disini, candi perwara disusun dalam suatu pola tertentu yang membentuk persegi panjang yang kosentris. Deret pertama ditempati 2 bangunan candi.diikuti 44 bangunan pada deret kedua dan 80 bangunan pada deret ketiga.

Sedangkan pada deret terakhir tersebar 88 candi. Candi apit diletakkan di antara deret kedua dan ketiga candi perwara. Sepasang pada masing-masing penjuru mata angin. 

Candi perwara pada deretan pertama, kedua, dan keempat membelakangi candi induk. Sedangkan deret ketiga menghadap candi induk. 

Sungguh suatu maha karya yang luar biasa, mengingat candi ini dibangun oleh nenek moyang kita yang masih minim pendidikannya, namun dapat menghasilkan sebuah karya yang indah, detail dan rumit seperti yang terdapat dalam candi Sewu ini.


           Secara vertical bangunan candi terbagi menjadi tiga: atap, tubuh dan kaki candi. Candi ini memiliki sembilan atap yang terdiri dari empat atap penampil, empat atap lorong dan sebuah atap bilik utama. 

Semua puncak atap berbentuk stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Atap bilik utama adalah atap yang paling besar dan paling tinggi karena terdiri dari tiga tingkatan. 

Terdapat hiasan-hiasan yang berupa relung-relung dan antefiks-antefiks dengan motif dewa-dewi.


          Tubuh candi terdiri dari satu bangunan tengah, empat lorong, empat selasar dan empat penampil. Di dalam bilik tengah terdapat sebuah asana lengkap dengan sandarannya yang merapat ke dinding barat ruangan. 

Asana ini dahulu diisi Arca Manjusri setinggi kurang lebih 3,6 meter. Hiasan-hiasan yang ada di tubuh candi antara lain kala makara pada ambang pintu. 

Relief dewa yang duduk dalam posisi vajrasana, dan kepalanya dikelilingi rangkaian api (sirachakra). Kaki candi dihiasi relief motif purnakalasa atau hiasan jambangan bunga. 

Ada pula arca singa pada setiap sudut pertemuan antara kaki dan struktur tangga.



Posted by Iwan Santoso at 10:57
Labels: Candi- candi

CANDI SUMBERAWAN




Lokasi: Malang
Arti nama: “Rawan”                                                                      karena dekat telaga/rawa                                                                      yang sangat bening airnya
Luas candi induk: 39 m2
Tinggi candi induk: 5,23 m
Tahun pembuatan: Abad 14 M
Peninggalan: Kerajaan Singasari




                Candi ini terletak di kaki Gunung Arjuna pada ketinggian 650 meter dpl. Berjarak sekitar 5 km dari kota Malang ke arah barat laut.

 
Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Singasari dan hanya berjarak sekitar 6 km dari Candi Singasari. Untuk mencapai candi ini kita harus berjalan kaki karena jalan setapaknya yang cukup sempit. 

Namun jangan khawatir karena semua rasa lelah itu akan terbayar dengan keindahan pemandangan Gunung Arjuna yang menawan serta pepohonan yang meneduhkan.



                 Candi ini disebut juga Candi Rawan karena terletak di tepi rawa yang mata airnya selalu mengalir sepanjang tahun. Secara bentuk, candi ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 6,25 x 6,25 meter dan tinggi 5,23 meter.

 
Candi ini terbuat dari batu andesit. Bangunan atap candi berupa stupa sederhana dan konon dibangun untuk menghormati raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit yang berkunjung ke daerah itu pada tahun 1359.



                  Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. 

Dengan adanya stupa menunjukkan bahwa candi ini merupakan candi buddhis dan dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batu dan stupa dapat diperkirakan bahwa candi ini dibangun sekitar abad 14 sampai 15 Masehi.



             Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. 

Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur.

 

               Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. 

Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. 

             
               Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. 

Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.
Suasana yang teduh dan tenang di sekitar candi ini menjadikan tempat ini cocok untuk melakukan meditasi.


Candi Ratu Boko







Lokasi: Yogyakarta
Arti nama: “Raja Bangau” (nama ayah dari Roro Jonggrang)
Luas kompleks: 250.000 m2
Tahun pembuatan: Abad 8 M
Peninggalan: Kerajaan Mataram Kuno (Wangsa Syailendra)

Add Image



              Candi Ratu Boko terletak sekitar 2 km dari Candi Prambanan dan sekitar 19 km kea rah timur dari kota Yogyakarta (menuju arah Wonosari). Nama Ratu Boko berasal dari legenda masyarakat setempat.

 Ratu Boko (Raja Bangau) adalah ayah dari Roro Jonggrang, candi utama pada kompleks Candi Prambanan.


          Pemandangan di sekitar candi sangatlah indah. Ke arah selatan samar-samar terlihat pantai selatan dan ke arah utara terlihat gunung merapi. Candi Prambanan dan Candi Kalasan dapat terlihat dengan jelas dari candi ini.

 dari pintu utama yang telah direnovasi kea rah kanan, terlihat sisa bangunan istana yang telah direstorasi. Di sebelah kiri bekas bangunan istana ini terdapat kolam yang dulunya dipakai untuk mandi para wanita kerajaan.


             Candi ini memiliki beberapa keistimewaan, yaitu situs Ratu Boko merupakan kompleks istana yang megah, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.

 Berbeda dengan peninggalan zaman Jawa Kuno yang umumnya berupa bangunan keagamaan. Situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Padahal keratin lain di Jawa umumnya didirikan di daerah yang relatif landai.

 Posisi di atas bukit memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang.


               Candi seluas 250.000 m2 ini dibangun abad ke-8 pada pemerintahan Rakai Penangkaran dari Wangsa Syailendra. Istana ini pada awalnya bernama Abhayagiri Vihara yang berarti biara di atas bukit yang penuh kedamaian.

 Bangunan ini dibuat sebagai tempat menyepi dan bermeditasi. Aura keindahan dan ketenangan langsung dapat Anda rasakan jika menyambangi tempat ini.


             Pemerintah Indonesia telah memasukkan situs peninggalan Ratu Boko dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Oleh karena itu, sekarang baik Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko dikelola dalam suatu pengelolaan BUMN. 

Sebagai hasilnya, kini situs Ratu Boko ditata ulang untuk dijadikan tempat pendidikan dan budaya. Dibangunlah sebuah tempat pertemuan yang mampu menampung sekitar 500 orang.

 Selain itu, pengelola juga menyediakan tempat perkemahan dan trekking, paket edukatif arkeologi serta pemandu wisata. Beberapa paket wisata tersebut adalah Boko Camping, Boko Ekskavasi, Boko Konservasi, Boko Restoran, Boko Sunset, dan Boko Tracking.

Sumber:
Jelajah Candi Nusantara
http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Ratu_Baka

Posted by Iwan Santoso at 11:07
Labels: Candi- candi

CANDI PLAOSAN




Lokasi: Jawa Tengah
Asal nama: Plaosan (nama dukuh tempat candi itu berada)

Tinggi candi induk: 21 m
Tahun pembuatan: Abad 9 M
Peninggalan: Kerajaan Medang/Mataram Kuno



                  Candi yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini sangat unik. Candi utamanya kembar, disebut Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Candi Plaosan terletak kira-kira 1,5 km di timur Candi Sewu, tidak jauh dari Candi Prambanan, hanya sekitar 3 km di timur laut.


 Candi Plaosan dibangun oleh ratu bergelar Sri Kahulunan yang beragama Buddha dan dalam pembangunan candi perwaranya dibantu oleh suaminya Rakai Pikatan. Sri Kahulunan adalah gelar yang disandang Pramudyawardhani setelah menggantikan kedudukan ayahnya Raja Samaratungga.



                   Candi Plaosan Lor terdiri dari dua candi utama setinggi 21 meter yang terletak berdampingan di sebelah utara dan selatan. Panjang tembok yang mengelilingi candi sepanjang 50 meter dan lebar 14 meter. 

Di tembok ini terdapat gambar Bodhisatva, Kinara dan beberapa dewi. Candi induk selatan mengalami pemugaran pada tahun 1960 sehingga masih tampak utuh namun candi induk utara dalam keadaan rusak/runtuh. Keindahan candi Plaosan Lor adalah bentuk bangunannnya yang bertingkat dimana terdapat 3 ruangan. 


                    Di ruangan lantai bawah terdapat patung Buddha yang terbuat dari tembaga tetapi sekarang sudah hilang, yang dikelilingi oleh dua patung Bodhisatva. Disamping itu, kompleks candi ini memiliki ukiran relief yang sangat detail dan rumit sehingga memancarkan nilai artistic yang mengagumkan.

 Badan candi yang reliefnya masih terawatt dengan bersih seperti bersinar saat tersorot sinar matahari. Sedangkan candi Plaosan Kidul terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Kala Makara dan pintu masuk. Sebagian dari kala makara didekorasi dengan antefiks.


                  Adapun pintu masuk dihiasi dengan motif tumbuh-tumbuhan. Secara keseluruhan kompleks candi Plaosan memiliki 116 stupa perwara dan 50 candi perwara. Walaupun candi ini adalah candi Buddha, tetapi gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara agama Buddha dan Hindu. Hal ini menunjukkan keselarasan dan keharmonisan umat beragama pada masa itu.


Sumber:
Jelajah Candi Nusantara
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Plaosan

Candi Muara Takus

 


Lokasi: Riau
Asal nama: Muara Takus (nama desa tempat candi ini berada)
Luas tanah/kompleks: 5.476 m2



          Selain Candi Muara Jambi, candi terkenal lainnya dari daerah Sumatera adalah Candi Muara Takus. Kompleks candi yang terlihat megah sampai sekarang ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan Koto Kampar berjarak kurang lebih 135 km dari kota Pekanbaru. 

Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 km dan tidak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan.



                       Candi Muara Takus adalah candi tertua di Sumatera yang terbuat dari tanah liat, tanah pasir, dan batu bata sementara candi yang ada di Jawa terbuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat candi ini, khususnya tanah liat, diambil dari desa Pongkai yang terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir kompleks Candi Muara Takus.

 Nama Pongkai berasal dari bahasa Cina Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, maksudnya adalah lubang tanah yang diakibatkan oleh penggalian untuk pembuatan candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian sekarang tidak dapat kita temukan lagi karena sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang.



                         Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi.

 Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.



                    Selain dari Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia.

 Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. Di kompleks candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai.

 Di Candi Sulung, arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai, arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini berdasarkan konsep dari kebudayaan India yang dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan symbol dari kekuatan terang/baik.



                   Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini.



                 Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar dengan sebuah bentukan menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

 Halaman candi ini berbentuk bujur sangkar (persegi) yang dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm. Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan.


 Di dalam kompleks ini terdapat bangunan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa serta Palangka. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.


                   Kompleks Candi Muara Takus, merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini. Bangunan candi yang terdapat di kompleks Candi Muara Takus antara lain :



1. Candi Mahligai: candi yang dianggap paling utuh. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa ini memiliki pondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di sebelah Selatan.

 Pada bagian alas tersebut terdapat ornamen lotus ganda, dan di bagian tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian dasarnya.

 Bagian atas dari bangunan ini berbentuk lingkaran. Dahulu menurut DR. FM Snitger, pada keempat sudut pondasi terdapat 4 arca singa dalam posisi duduk yang terbuat dari batu andesit. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, dahulu bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya.

 Bangunan ini diduga mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum bangunan diperbesar.



2. Candi Sulung (Tua): yaitu candi terbesar di antara bangunan lainnya di kompleks Candi Muara Takus. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m.

 Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran pondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m. 

Pondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran. Tidak ada ruang kosong sama sekali di bagian dalam Candi Sulung. Bangunan terbuat dari susunan bata dengan tambahan batu pasir yang hanya digunakan untuk membuat sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki dengan perbingkaian atas kaki.

 Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa candi ini paling tidak telah mengalami dua tahap pembangunan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain yang bentuk profilnya berbeda.



3. Candi Bungsu: bentuknya tidak jauh beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada bagian atas berbentuk segi empat. Ia berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di sebelah Timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu putih. Bagian pondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. 

Pada bidang tersebut terdapat teratai. Penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan sebuah lubang di pinggiran padmasana stupa yang di dalamnya terdapat tanah dan abu. Dalam tanah tersebut didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi terdapat di dasar lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf Nagari.

 Di bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang pada sisi bawahnya ternyata digores dengan gambar tricula dan sembilan buah huruf. Bangunan ini dibagi menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih separuh bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh bangunan bagian selatan terbuat dari bata. Batas antara kedua bagian tersebut mengikuti bentuk profil bangunan yang terbuat dari batu pasir.


 Hal ini menunjukkan bahwa bagian bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun kemudian ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.
4. Candi Palangka: terletak di sisi Timur stupa mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar dua meter. Candi ini terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara.

Candi Palangka pada masa lampau diduga digunakan sebagai altar.



            Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. 

Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.

 Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya.



               Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :


1. Stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan.
2. Stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
3. Stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.



            Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.


           Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. 

Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.



                 Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘jahat’. 

Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’.

 Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.



             Dalam naskah Silpa Prakasa dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang dianggap baik, antara lain :



1. Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya dalam posisi membalik dan melihat ke belakang. Sikap ini disebut simhavalokana.

2. Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas (mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke atas. Sering disebut khummana simha.


3. Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang tinggi. Terkenal dengan sebutan jhmpa-simha.


4. Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada seolah-olah siap untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara.



                 Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.



              Berdasarkan penelitian R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa bangunan Candi Muara Takus dahulunya merupakan bangunan Buddhis yang terdiri dari biara dan beberapa candi.



Sumber:
Jelajah Candi Nusantara
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus

CANDI NGAWEN


CANDI NGAWEN


Lokasi: Jawa Tengah
Asal nama: Ngawen (nama desa tempat candi ini berada)
Tahun pembuatan: Abad 8 M
Peninggalan: Kerajaan Mataram Kuno (Wangsa Syailendra)




                 Candi yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah ini merupakan salah satu candi yang bercorak Buddha.


Sebuah prasasti, yaitu prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 824 M mencantumkan keberadaan candi ini. Candi Ngawen dibangun pada masa pemerintahan Syailendra pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.




                           Candi yang berjarak kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta ini terdiri dari 5 buah candi kecil. Pada salah satu candi terdapat sebuah patung Buddha dalam posisi duduk Ratnasambawa, namun sudah tidak lengkap kepalanya. 


Pada dua candi lain dilengkapi dengan hiasan patung singa pada keempat sudutnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak jelas, yaitu relief Kinara-Kinari dan kala makara.


Kelima bangunan candi ini diperuntukkan bagi kelima Dhyani Buddha dan memiliki pintu masuk yang menghadap arah timur. Istimewanya lagi, pada sisi timur dan barat candi ini terdapat Sungai Blongkeng dan Kali Kebo yang seolah-olah mengapit candi ini.




                       Candi ini pertama kali ditemukan pada 1864 oleh seorang Belanda bernama Hoepermans. Dalam perkembangannya, candi ini pernah direstorasi. Proses restorasinya selesai pada 1927. Hingga kini, tidak ada lagi usaha untuk merestorasi.

 
Hal ini disebabkan banyaknya batu dan ornamen yang hilang atau tidak ditemukan sehingga pelaksanaan restorasi menjadi sulit. Selain itu, usaha untuk mereka-ulang candi ini juga belum berhasil.




                       Di sekeliling candi terdapat semacam selokan kecil yang masih berair dan mengandung belerang. Candi ini dilengkapi dengan sebuah taman agar menambah keasrian. 


Tidak jarang nampak angsa-angsa kecil yang sedang asyik bermain di dalam taman kompleks candi. Hal ini menambah pemandangan candi menjadi lebih segar dan mengasyikkan.




Sumber:
Jelajah Candi Nusantara
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ngawen
http://hurahura.wordpress.com/2010/09/20/candi-ngawen-yang-unik-yang-terpinggirkan/

CANDI PRAMBANAN


  



                    Candi Prambanan adalah bangunan luar 

biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa 

pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung

. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari 

Candi borobudur. berdirinya candi ini telah memenuhi 

keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di 

tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota 

Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.




Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa 

tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung 

Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak 

mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi 
dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir 

terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa 

menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk 

suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat 

membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi 

arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.





Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, 

yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut 

adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga 

candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki 

satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu 

Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk 

Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, 

dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 

candi.








                   Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan 

bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah

 ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3
 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri 

Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca 

Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang

 dalam legenda yang diceritakan di atas.







                   Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara

 candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang 

berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang

 terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan

menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.




     Candi pendamping 

yang cukup memikat 

adalah Candi Garuda 

yang terletak di dekat Candi Wisnu. 


Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda.


 Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu 

yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, 

berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu 

adalah adaptasi 





            Hindu atas sosokBennu (berarti ‘terbit’ atau ‘bersinar’, biasa
  
 diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno

 atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa

 menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda

 yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci

 para dewa).


                 Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi

 oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk

 berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk 

lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila

 mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga

 menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand

, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan

 yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah

 Krut atau Pha Krut.





                 

              Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat 

kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan 

cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief 

lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam 

agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, 

kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief 

pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. 

Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap 

bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam

mengelola lingkungannya.



Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan 

untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru 

menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). 

Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep 

Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan 

melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu 

juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk

 membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang 

ada di Prambanan telah mendunia.




Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung,

 kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi 

Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan 

dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah

 satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)

 yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu 

sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah 

pulau di tengah Laut Jawa.




 Lalu, apakah jenis itu dulu 

pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan 

cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang 

pun yang bisa memecahkan misteri itu.



           Nah, masih banyak lagi yang bisa digali di Prambanan.

 Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah,

 anda bisa beristirahat di taman sekitar candi. Tertarik? 

Datanglah segera. Sejak tanggal 18 September 2006, anda 

sudah bisa memasuki zona 1 Candi Prambanan meski belum 

bisa masuk ke dalam candi. Beberapa kerusakan akibat 

gempa 27 Mei 2006 lalu kini sedang diperbaiki.

 





















                       Hal lain yang menarik adalah 2 buah candi Apit, masing-masing didekat pintu masuk utara dan selatan.Keterangan mengenai gugusan candi yang terletak didekat sungai mengingatkan pada gugusan candi Prambanan dengan sungai Opak di sebelah baratnya dan jika dari jarak antara sungai Opak dan gugusan candi Prambanan dan adanya pembelokan aliran sungai kemungkinan pembelokan tersebut terjadi diantara desa Klurak dan Bogem. Dengan demikian, tampaknya uraian yang terdapat dalam prasasti Siwargrarha tentang gugusan candi tersebut lebih cocok dengan keadaan candi Prambanan.








                  Usaha pertama kali untuk menyelamatkan candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan pemugaran diselesaikan oleh bangsa Indonesia, tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar dan secara resmi dinyatakan selasai oleh Presiden Dr. Ir. Sukarno.